April232012

secangkir teh poci di sore hari

Hujan mulai bertandang di jendela, linimasa dipenuhi kalimat rindu dan kode yang terbang bebas mengenai saat hujan ingin bersama siapa.



Saya entah mengapa, hanya berpikir enak sekali rasanya untuk duduk di genteng ditemani secangkir teh poci dan ipod yang beberapa hari ini saya forsir untuk bersuara.


Ya, teh poci. Ga lebih ga kurang, teh ini menurut saya sangat romantis. Hanya dengan satu teguk, imajinasi saya lepas bebas mengembara ke tempat-tempat yang pernah saya lalui bersama orang-orang di sekitar saya. 



Teh poci yang lebih dikenal di daerah jawa ini untuk saya merupakan teh yang paling enak karena memiliki rasa yang khas dan juga memiliki banyak cerita, paling tidak untuk saya.



Bukan teh poci namanya kalau pocinya tidak terbuat dari tanah liat. Tidak lengkap juga rasanya kalau teh poci tidak dilengkapi dengan gula batu. 

Sebagai menu pelengkap, bisa juga anda tambahkan pisang goreng atau beragam kudapan lainnya. 

Teh poci wajib hukumnya disajikan dengan air panas yang direbus langsung dari ketel dan dituang ke dalam poci tanah liat.



Saat disajikan maka wangi melati akan perlahan memasuki saluran pernafasan dan dengan magisnya dalam setiap hirup muncul satu persatu ingatan yang diputar seperti slideshow di dalam kepala. 



Solo saat Ramadhan, menjelang maghrib bermain di sawah dan menangkap kodok ataupun kepiting kecil.

Atau nyanyian yang biasa ibu bisikkan perlahan waktu kecil sebelum saya tertidur : uwo..uwo bango..cucu iro kaya cucu manuro

Dan juga sebuah warung sederhana, dengan alunan lagu keroncong dari seorang mbok yang lengkap berkebaya dengan pengiring yang semuanya tersenyum manis bersaing ketat dengan manisnya teh poci saya. 



Teh poci disajikan dengan gula batu yang diletakkan di dalam cangkir yang juga terbuat dari tanah liat. Cara penyajiannya seduh gula batu ini dengan teh dari poci yang masih panas, biarkan gula batu larut perlahan dalam setiap tegukan. Jika anda perempuan maka menurut saya wajib hukumnya menuang teh ini, meletakkan gula batu dan menyajikan untuk teman laki-laki atau pasangan anda.

Disinilah letak esensi untuk saya pribadi, bahwa perempuan siapapun dan apapun profesinya di kehidupan sehari-hari tetaplah berpegang kepada budaya dan kembali ke kodratnya dimana salah satunya untuk ngajeni ( menghormati ) laki-laki.



Rasa sepat dan pahit perlahan akan berpadu dengan manisnya gula batu. Semakin banyak tegukan yang anda minum akan perlahan juga rasa manis berpadu rata dengan keseluruhan rasa. 

Untuk saya mirip seperti kehidupan, ada rasa asam dan pahit semuanya perlahan dinikmati. Samar-samar rasa manis yang perlahan larut pada akhirnya hanya akan menyisakan manis keseluruhan dengan sisa gula batu yang akan dinikmati pada seduhan selanjutnya. 



Poci yang digunakan pun sebaiknya tidak dicuci pada bagian dalamnya. Cukup bersihkan saja daun teh, hal ini dipercaya yang membuat rasa teh poci tetap nikmat.

Mungkin seperti ingatan, banyak hal yang sebaiknya tidak dilupakan. Biar saja tetap ada dan terpelihara dengan baik. Ini yang nantinya akan menjadi pengajaran dan pengalaman untuk terus berjalan.

Daun teh yang dibersihkan, sebagai lambang bahwa semua ada batas waktunya, jadi bersihkan dan sisakan kenangan atau rasa yang masih melekat. 



Hm, sore ini saya ingin sesuatu yang berbeda. Saya ingin teh poci saya pahit dan sepat tanpa gula karena diabetes saya mulai berulah lagi. Ternyata segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, sama halnya dengan gula ataupun rasa manis yang kita kecap setiap hari. Sekali-kali ga ada salahnya untuk menikmati rasa pahit dan sepat, jadi pada saat kita bertemu manis, rasanya seperti sebuah kejutan. 

Yuk tuang teh yang masih panas mengepul dan selamat mengembara dengan ingatan anda. :)   

Page 1 of 1